Minggu, Januari 24, 2010

Cabut Gigi Lagi

Sudah cukup lama gw ga pernah mengunjungi dokter gigi. Terakhir kalinya pergi ke dokter gigi seingat gw adalah kelas 5 SD, sekitar tahun 1997. Beberapa bulan yang lalu gw nemenin Ayanx ke dokter gigi di Siantan untuk mencabut giginya yang  berlubang dan sering sakit. Menurut dokter sih ada 3 gigi berlubang yang harus dicabut, tapi saat itu baru dicabut satu aja, soalnya Ayanx baru pertama kali cabut gigi, jadi masih takut mo cabut gigi sampe 2 atau 3 sekaligus.

Sejak saat itu, gw mengutarakan niat gw untuk mencabut gigi gw yang berlubang kepada Ayanx. Memang, sejak beberapa tahun terakhir ini gw memiliki 1 gigi berlubang yang sudah cukup parah, gigi geraham kiri atas. Walaupun 1 gigi berlubang ini tidak lagi menimbulkan rasa nyeri, tapi membuat seluruh bagian mulut sebelah kiri tidak bisa gw pakai karena bila terkena makanan maka akan terasa sakit pada lubangnya, jadi otomatis gw hanya makan menggunakan bagian mulut kanan. Hal itu terjadi sejak lama, sejak gw SMA hingga sekarang.

Biaya untuk mencabut gigi di dokter tempat Ayanx mencabut gigi cukup mahal, sekitar Rp.100.000,-/gigi (tergantung giginya). Ada juga praktek dokter gigi di tempat lain yang jauh lebih murah dan berpengalaman, tapi jika itu berarti gw harus pergi sendiri tanpa ditemani Ayanx, I'm sorry goodbye... Soalnya di dokter gigi Ayanx ini, biaya mencabut gigi untuk Ayanx ditanggung oleh perusahaan tempat Ayanx bekerja. Selain ditemani Ayanx, yang menjadi pertimbangan lain gw adalah dokter gigi ini sangat ramah dan menggunakan peralatan medis yang modern. Jadi tekad gw sudah bulat untuk mencabut gigi di sini. :nerd

Pada tanggal 4 Januari 2010, gw menemani Ayanx kembali ke dokter gigi tersebut untuk mencabut 2 buah giginya yang tersisa, beserta 1 gigi gw. Setelah dokter selesai dengan Ayanx, giliran gw naik ke kursi pasien untuk diperiksa. Dokter memeriksa dan menemukan bahwa pada lubang gigi gw terdapat polip sehingga tidak bisa langsung dicabut malam itu. :cd Gw diberi obat oleh dokter dan diminta kembali pada Kamis malam untuk mencabut gigi, setelah menghabiskan obat pemberian dokter tersebut.

Malam Jum'at, 7 Januari 2010 gw kembali ke ruang praktek dokter. Gw kembali naik dan berbaring di kursi pasien dokter gigi. Dokter kembali memeriksa dan mulai menyuntik anestesi (obat bius) pada beberapa bagian gusi. Setelah anestesi bereaksi, dokter mulai melakukan prosesi pencabutan gigi. Tetapi bukannya tanpa perlawanan dari gigi gw.

Cabut Gigi Lagi

Dokter menemukan bahwa gigi gw dalam kondisi yang sangat sulit untuk dicabut. Selain kondisi fisik gigi yang sudah rusak berat (keropos dan hancur), ternyata posisi akar gigi juga dalam keadaan terkunci dengan akar gigi di sebelahnya. Ditambah lagi gigi gw berukuran cukup besar. Dokter mengebor, menggoyang, mengcungkil, dan mengeluarkan bermacam-macam alat medis andalannya. Cukup kasihan juga melihat dokter sampe berkeringat-keringat dalam usahanya mencabut gigi super gw.

Akhirnya setelah 20 menit, setelah 3x di bor, setelah banyak usaha dan doa dari gw, Ayanx dan dokter, gigi gw berhasil dicabut. Benar-benar super tuh gigi, bukan hanya ukuran yang cukup besar, tapi juga memilki 3 kaki, di mana biasanya gigi geraham hanya memiliki 2 kaki. Gw bersyukur dengan sungguh-sungguh, akhirnya gigi ini bisa dicabut. Dengan begitu, gw tidak lagi memiliki gigi yang rusak, karena semua gigi yang tersisa di mulut gw masih sehat dan utuh. Dokter membekaliku dengan obat pasca pencabutan, tetapi dokter memberikan jumlah 3x dari biasanya mengingat lubang di gusi yang dihasilkan sangat besar.

Pengalaman malam ini mengingatkanku pada pengalaman unik gw yang laen saat mencabut gigi. Tapi biarlah itu gw ceritakan di catatan selanjutnya. Tapi yang pasti, sejak malam itu hingga sekarang gw sangat senang karena gw sudah kembali memiliki mulut dan gigi yang normal.
Share:

0 comments:

Posting Komentar