Sabtu, Maret 06, 2010

Vox Populi Vox Dei adalah Hoax

Vox populi vox dei adalah hoax


Vox populi vox dei, sebuah adagium (suatu hal yang sudah diyakini sebagai benar) yang akhir-akhir ini sangat sering dipakai oleh para politisi sebagai 'pembenaran' atau 'hujjah' mereka di arena politik. Ungkapan ini berasal dari William of Malmesbury pada abad 12, “Vox populi, vox dei” (The voice of the people is the voice of God), yang berarti “Suara Rakyat, Suara Tuhan”. Adagium ini seakan-akan menjadi kebenaran mutlak bahkan dogma yang menjadi dasar dari Demokrasi. Tapi benarkah suara rakyat adalah suara Tuhan?


Gw secara pribadi bukanlah termasuk orang yang setuju dengan adagium ini. Bila mau dicermati, dibalik kata-kata itu sebenarnya bermuatan kehendak untuk dapat dipaksakan ‘atas nama Tuhan’. Lantas, apakah suara segelintir rakyat ini bisa menjadi Suara Tuhan? Yang harus menjadi wujud dan mendadak dituruti? Bukankah itu sama saja dengan kita mengadopsi hukum rimba yang kemudian diterapkan dikota, “Siapa yang mempunyai kekuatan besar maka dia menang. Bukan siapa yang benar yang akan menang?”


Vox populi vox dei adalah hoax


Mungkin adagium ini lebih tepatnya berbunyi "Suara Tuhan harus jadi Suara Rakyat". Kenapa? Karena seringkali suara rakyat tidak sesuai dengan suara Tuhan, apa yang disenangi oleh masyarakat belum tentu disenangi oleh Tuhan. Sebagai seorang Muslim, gw sangat hobi membaca cerita mengenai sejarah para Nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang diutus kepada bangsa Arab dan dunia sebagai jawaban Tuhan atas bobroknya tatanan sosial (masyarakat) pada saat itu, yang dikenal dengan masa Jahilliyah. Pada zaman itu meminum khamar (mabuk-mabukkan), berzina, saling membunuh, berjudi dan mengundi nasib, merampok, membunuh bayi-bayi perempuan,  adalah suatu hal yang dianggap biasa oleh masyarakat Arab, bahkan menjadi adat dan budaya mereka. Apakah kebiasaan masyarakat Jahiliyah ini suara Tuhan? Jika jawabannya iya, kenapa Tuhan mengutus 1 suara (1 orang - Nabi SAW) untuk melawan suara rakyat?


Hal serupa tidak saja terjadi pada Nabi SAW, tetapi beberapa Nabi sebelum beliau juga diutus sebagai jawaban Tuhan atas 'suara rakyat'. Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Musa dan Harun, Yahya hingga Isa adalah manusia-manusia yang menjadi suara Yang Satu untuk memperbaiki suara rakyat.


Dalam Islam sendiri, tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Yang ada adalah sebuah hadis senada yang menyebutkan bahwa “Tidak mungkin ummatku bersepakat pada kesesatan atau kesalahan.” (Ibn Majah, Hadis : 3940). Islam adalah agama langit, yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Al-Qur’an. Jadi, jelas bahwa vox dei (suara Tuhan) itu BUKAN vox populi (suara umat), dan harus di-imani sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Secara vertikal/teologis, ia bersifat dogmatis, tapi secara horizontal/sosial bersifat lentur.


Sebagai penutup, gw bukanlah orang yang begitu tertarik dan mengerti dengan dunia politik. Tulisan ini lebih kepada jawaban atas kegundahan hati gw setiap kali mendengar ada yang menggunakan adagium ini seakan-akan merupakan dogma tak terbantahkan. Bagi gw, Vox Populi Vox Dei tidak lebih dari sebuah Hoax besar. Kebenaran datangnya mutlak dari Allah SWT, sementara manusia adalah tempatnya salah dan dosa, jadi tidak mungkin suara rakyat menjadi suara Tuhan. Vice versa.


Saduran dan penambahan seperlunya dari:
http://polhukam.kompasiana.com/2010/02/23/vox-populi-bukan-vox-dei/
http://blog.liputan6.com/2009/06/15/vox-populi-vox-dei/

Share:

0 comments:

Posting Komentar