Asuransi Dalam Pandangan Islam

by - 17.10.00

Berbeda dengan riba, yang sudah secara jelas dihukumi 'Haram' dalam syariat Islam, maka asuransi merupakan suatu hal baru yang tidak terjadi pada zaman Nabi Muhammad S.A.W maupun para ulama salaf. Oleh karena, status halal-haramnya asuransi dalam Islam mungkin tidak banyak diketahui dan diperhatikan oleh umat muslim di sekitar kita. Bagaimana sebenarnya Islam memandang asuransi? Halal atau haramkah asuransi?

Untuk menjawab hal tersebut marilah kita coba mengurai pengertian dan cara kerja asuransi. Dalam asuransi, setiap anggota dikenakan membayar sejumlah uang jaminan yang wajib ia bayar untuk periode tertentu (bisa 1 tahun, 5 tahun, ataupun 1 bulan). Dalam periode tersebut, jika anggota tersebut mengalami musibah (yang dijamin oleh perusahaan asuransi sesuai perjanjian) maka perusahaan asuransi akan membayar sejumlah uang (semacam santunan) kepada anggota tersebut. Namun, jika hingga akhir masa periode anggota asuransi tersebut tidak mengalami musibah, maka uang jaminan anggota tersebut akan menjadi hak dari perusahaan asuransi sepenuhnya.

Dalam pandangan Islam, usaha seperti ini jauh sekali dari perdagangan maupun solidaritas dan kepedulian sosial, bahkan usaha seperti lebih dekat kepada judi dan riba. Kenapa? Karena dalam asuransi hanya ada dua kemungkinan, kerugian di pihak anggota atau kerugian di pihak perusahaan. Jika dalam periode perjanjian tersebut anggota mengalami musibah, maka perusahaan akan menderita kerugian dikarenakan harus membayar santunan. Sebaliknya, jika tidak terjadi musibah apapun, maka anggota tersebut akan menderita kerugian karena uangnya menjadi hak perusahaan.

Tidak seperti perdagangan yang menciptakan situasi saling menguntungkan, maka asuransi menciptakan situasi yang akan merugikan salah satu pihak, dan dengan jelas syariat Islam akan menghukumi asuransi sebagai HARAM!

Beberapa alasan mengapa asuransi haram antara lain:
  • Hanya menguntungkan salah satu pihak, dan pihak yang lain mengalami kerugian.
  • Tidak dilandaskan pada niat solidaritas dan saling tolong-menolong.
  • Semua anggota asuransi tidak membayarkan uangnya itu dengan maksud sumbangan, bahkan niat ini sedikitpun tidak terlintas padanya.
  • Dapat menjauhkan seseorang dari sifat simpatik, kepedulian, dan ikhlas dalam menolong saudaranya maupun orang lain yang tertimpa musibah.
  • Memperjual-belikan musibah dan resiko.
  • Mendorong terjadinya penipuan dan tipu muslihat dikarenakan salah satu pihak tidak ingin dirugikan.
  • Uang yang disetorkan sebagai jaminan akan lebih baik jika dijadikan modal perdagangan sehingga dalam periode tertentu justru menghasilkan keuntungan.
  • Badan asuransi memutar uangnya dengan jalan riba, sedang setiap muslim tidak dibenarkan turut andil dalam pekerjaan riba.
  • Jika dipertimbangkan secara adil, maka sistem asuransi tidak sesuai prinsip keadilan hakiki dan tidak rasional.
  • Kerelaan kedua pihak tidak menjadikan asuransi menjadi halal, sama seperti halnya judi dan riba.
  • Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya dia mendapat imbalan yang berlipat apabila terkena suatu musibah.
  • Bertentangannya asuransi dengan arti bantuan sosial, yaitu bahwa asuransi memberi kepada orang kaya lebih banyak daripada kepada orang yang tidak mampu, sebab orang yang mampu membayar asuransi sejumlah uang yang lebih banyak, maka ketika ia mati karena suatu musibah, akan mendapat bagian yang lebih besar pula. Sedang bantuan sosial, adalah memberi kepada orang yang tidak mampu lebih banyak daripada lainnya.
  • Barangsiapa hendak menarik kembali uangnya itu, maka dia akan dikenakan kerugian yang cukup besar. Sedang pengurangan ini samasekali tidak dapat dibenarkan dalam pandangan syariat Islam.
Dengan begitu, sistem asuransi yang merugikan demikian hendaklah dijauhi dan ditentang. Namun apakah Islam memandang asuransi sebagai Haram secara mutlak? Tidak demikian, karena jika prinsip-prinsip asuransi disesuaikan dengan syariat Islam maka bisa saja asuransi menjadi mubah dan halal. Hal-hal berikut adalah usaha penyesuaian asuransi dengan syariat Islam:
  • Asuransi dalam bentuk sumbangan berimbal, misalnya seorang anggota asuransi membayar uang kepada perusahaan dengan syarat dia akan diberi imbalan sejumlah uang karena ditimpa suatu musibah, sebagai bantuan untuk meringankan penderitaannya itu. Bentuk asuransi seperti ini dibenarkan dalam pandangan sebagian madzhab Islam.
  • Setiap anggota yang menyetorkan uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan, harus disertai niat membantu demi menegakkan prinsip ukhuwah. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambillah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan.
  • Apabila uang itu akan diputar, maka harus dijalankan menurut aturan syara'.
  • Baitul-maal adalah asuransi secara umum untuk semua orang yang bernaung di bawah pemerintahan Islam. Seseorang yang terkena musibah dan meminta boleh minta kepada pemerintah (waliyul amri), dan waliyul amri akan memberi ganti semua yang dideritanya itu atau yang kiranya cukup untuk meringankan sebagiannya.
Dengan maraknya jasa asuransi di sekitar kita saat ini, kini kita dapat menyikapinya dengan bijak dan sesuai dengan syariat Islam agar kita jangan lagi terjerumus ke dalam kesia-siaan dan kerugian. Wallahu'alam.
Disarikan dari buku Halal dan Haram dalam Islam, Bab IV oleh Syekh M. Yusuf Al-Qardhawi.

You May Also Like

0 comments