Rabu, Desember 28, 2011

Tragedi Sepatu

Ini adalah sebuah contoh bagaimana sebuah keisengan sepele bisa menjadi sebuah petaka besar! Yang aku ingat adalah kejadian ini cukup menghebohkan kelas 2 B SMU Negeri 2 Pontianak dimana kejadian ini melibatkan aku dan 3 orang teman sekelasku. Hari itu Sabtu siang, aku sedang di dalam kelas mengikuti mata pelajaran terakhir sebelum lonceng pulang pada pukul 13.30. Hari cukup panas, dan aku yang duduk di bangku paling kiri dan paling belakang, iseng-iseng membuka sepatu dan membiarkan udara dingin menyelinap di pori-pori kaus kaki hitam yang udah 2 hari ga dicuci. Rasanya adem banget.
Pukul 13.00 lewat, beberapa menit sebelum lonceng pulang berbunyi pun, aku masih sibuk mencari-cari sebelah sepatuku yang tidak ada. Aku tidak ingat yang hilang sepatu kiri atau kanan, tapi yang pasti sepatu yang tadinya aku letakkan saja di bawah bangku kelasku tadi udah hilang. Aku cukup panik, kucoba mencari-cari di kolong meja dan bangku di sekelilingku. Ketika kutanya pada teman sebangkuku saat itu, berinisial DR, iamengaku tidak tahu. Namun aku yakin kalau tentunya ia pasti tahu sesuatu tentang sepatuku, karena tidak mungkin sepatu itu bisa hilang sendiri, toh aku sendiri duduk dipojok paling belakang.
Akhirnya setelah mencari-cari di meja-meja di sekitarku dan tidak menemukannya, aku memutuskan pulang walau tanpa sepatu. Kupikir kalau teman-temanku yang menyembunyikan sepatuku, pasti nanti akan dikembalikan lagi. Lalu aku pun pulang mengendarai motor tanpa mengenakan sepatu, sementara sepatu yang sebelah aku masukkan ke dalam tasku. Sesampainya di rumah, aku menjelaskan ke mama yang penasaran kenapa aku pulang tanpa sepatu. Aku sebenarnya sangat kesal dengan teman-teman yang mengerjaiku, saking kesalnya aku tidak masuk les wajib pada sore harinya di sekolah.
Senin pagi, aku mengikuti upacara seperti biasa. Namun ternyata ada sebuah kejutan menantiku. Bukan, bukan sepatu yang hilang tersebut tiba-tiba muncul, karena kalo itu yang terjadi itu bukan kejutan namanya (aku sudah tahu pasti kalo sepatu itu pasti akan muncul). Kejutannya adalah pada akhir upacara bendera, barisan kelas 2B diperintahkan untuk tetap di lapangan usai upacara. Ternyata Wakepsek yang juga merupakan tanteku, yang terkenal sebagai guru paling disiplin dan garang, akan menginterogasi kelas 2B, kecuali aku, untuk menemukan siapa dalang 'pencurian' sepatuku tersebut. Yah, ternyata persoalan sepele ini sudah melibatkan pihak sekolah.
Kenapa masalah ini bisa menjadi isu sekolah? Apakah mamaku yang melaporkan hal ini ke tanteku? Ternyata jawabannya adalah karena pada saat aku pulang bermotor tanpa sepatu dan lewat di teras sekolah, salah seorang guru melihat 'keganjilan' tersebut dan melaporkannya kepada tanteku! Mengetahui hal tersebut, tanteku lalu menelepon mamaku untuk menanyakan apa yang terjadi dan inilah hasilnya: interogasi!
Dari hasil interogasi, ternyata ada 3 orang yang akhirnya mengakui: teman sebangkuku DR, RZ, dan EK. Mastermind-nya tentu saja DR, dengan RZ sebagai 'penengah' alias orang yang memutuskan kemana sepatuku akan disembunyikan dan EK sebagai orang terakhir dimana sepatu itu disembunyikan. Ketiga temanku tersebut akhirnya digiring ke kantor Wakepsek dan akhirnya diberikan sangsi yang cukup berat, cukup berat sampai sanggup membuat RZ (temanku ini cowok) menangis, dan EK (temanku yang ini cewek) jatuh pingsan! Sampai saat inipun semua teman-teman di kelas 2B ku masih selalu mengingat kejadian ini dan menyebutnya dengan 'Tragedi Sepatu'.
Share:

0 comments:

Posting Komentar