Jumat, Januari 27, 2012

Apa Kabar Dinar Iraq?

Satu bulan hampir terlewat tanpa 1 kalipun nulis di blog ini. Entah kenapa lagi terserang virus malas nulis sejak kemarin, inipun setelah memaksakan diri barulah menguatkan hati dan pikiran untuk sekedar menuliskan apa yang ada di dalam pikiran. Awal tahun 2012 ini pula mengingatkanku pada sesuatu yang ingin kuceritakan.
Tahun 2008 lalu, Endry Can mengajakku untuk memulai bisnis yang belum pernah kudengar sebelumnya: Bisnis Dinar Iraq? "Bisnis apaan sih tuh," pikirku dengan penasaran. Ternyata sebenarnya itu adalah bisnis valuta asing (valas) dengan memanfaatkan suatu kondisi. Jadi begini, sejak Iraq digempur oleh Amerika Serikat, nilai mata uang Dinar Iraq jatuh bebas ke level yang sangat rendah. Dari sebelumnya dimana nilai Dinar-nya melampaui nilai Dollar US, kini 1 USD nilainya hanya 1.200an Dinar. Mungkin itulah akibat perang, nilai mata uang negara yang sedang digempur perang tentu akan melemah.
Tidak sekedar berinvestasi dengan menyimpan sejumlah dinar, kami juga memutuskan untuk mengajak orang lain yang tertarik berinvestasi. Tujuannya sederhana, yaitu dengan mengajak orang lain tentunya kami bisa mendapatkan dinar Iraq dengan lebih murah dan dengan sedikit kuntungan kami berdua bisa berinvestasi dengan lebih banyak dinar. Ternyata apa yang kami usahakan cukup menghasilkan, dan beberapa teman juga telah memutuskan menjadi investor dinar.
Namun sayangnya, sejak tahun 2008 hingga tahun 2012 ini nilai mata uang dinar Iraq tidak berubah secara signifikan, bahkan ketika tentara US telah meninggalkan Iraq sekali pun. Belum lagi terdengar kabar oleh Bank Dunia bahwa kurs mata uang Dinar Iraq akan didevaluasi secara paksa hingga pada rate normal-nya yang ternyata jauh dibawah rate sebelumnya. Artinya, dinar Iraq yang telah kita beli terancam tidak memiliki nilai lagi dan menjadi sia-sia. Pembelian Dinar Iraq besar-besaran tersebutlah yang justru menjadi bumerang bagi Dinar Iraq tersebut. Kenapa? Karena semakin banyak uang beredar, dipastikan akan terjadi devaluasi terhadap mata uang bersangkutan.
Sebenarnya investasi model ini memang telah terbukti, terutama pada negara-negara yang sedang perang atau krisis. Saat Kuwait di invasi Iraq dulu, saat itu nilai kurs Kuwait jatuh ke titik terendahnya. Banyak orang membeli dinar Kuwait, dan beberapa tahun kemudian, perang usai dan ekonomi kuwait pulih. Mereka menjual dinar itu dengan harga Dinar pasca perang, harganya saat itu sangat tinggi. 1 dinar = 3,2 dolar (lebih tinggi dari dolar).
Namun kondisi yang sama tidak harus terjadi setiap saat. Untuk dinar Iraq ini, animo masyarakat dunia begitu tingginya sehingga bisa jadi justru menjadikan kondisi berbalik arah, bukannya menguatkan nilai mata uang, namun justru akan meningkatkan inflasi pada Iraq secara gila-gilaan. Mungkin hal tersebutlah salah satu hal yang menjadi pertimbangan Bank Dunia sehingga mempertimbangkan mengambil kebijakan devaluasi dinar Iraq.
Jadi, yang udah berinvestasi dinar Iraq merugi dong? Kalau kondisinya memang seperti yang disebutkan oleh Bank Dunia, boleh jadi kita rugi. Namun kita tidak sendiri loh, ribuan atau bahkan jutaan orang di dunia ikut merugi, mudah-mudahan bisa menghibur yah.. Hehehehehe... Ya udah, kita pantau aja kelanjutan perkembangannya.
Share:

1 komentar: