Rawannya Konflik Antara Suku Dayak dan Organisasi Islam di Pontianak

by - 10.42.00

Rawannya Konflik Antara Suku Dayak dan Organisasi Islam di Pontianak
Kemarin sore keluargaku ditelepon oleh paman yang mengingatkan untuk menghindari keluar rumah karena kabarnya ada keributan rawan konflik. Dalam hati aku bertanya, ada heboh apalagi di Pontianak ini? Ternyata dapat kabar bahwa kemarin sore telah terjadi keributan antara suku Dayak dan salah satu organisasi Islam, yaitu FPI (Front Pembela Islam). Entah bagaimana asal muasal ceritanya, namun dari yang kudengar gosip kehebohan ini berawal dari kesalahpahaman oknum dari adat Dayak dan dari anggota FPI. Isunya yang terdengar, bahwa mungkin terinspirasi dari penolakan masyarakat Dayak Kalimantan Tengah terhadap organisasi Islam Front Pembela Islam beberapa waktu lalu.
Mungkin terinspirasi dari hal tersebut, ratusan warga kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, sempat melakukan pemblokiran dengan merobohkan pohon dan melintangkannya di tengah jalan terhadap rombongan dakwah Habib Rizieq, yang merupakan ketua FPI (Front Pembela Islam) pada hari Minggu, 11 Maret 2012. Meski telah diselesaikan dengan damai dan bijaksana, dengan melibatkan Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang, namun ternyata aksi penolakan terhadap organisasi gerakan Islam masih terjadi.
Berikut artikel berita yang ditulis di blog www.barubaca.com dengan judul Kisruh Dayak - FPI Di Pontianak : Utamakan Dialog Damai.
Kekisruhan yang terjadi di Asrama Mahasiswa Pangsuma Pontianak itu dipicu pemasangan spanduk yang tidak menghendaki keberadaan FPI di Kalimantan Barat. Spanduk itu dipasang tepat di pintu masuk asrama oleh oknum yang tidak diketahui.
Pemasangan spanduk berukuran sekitar 2,5 meter tersebut memancing kemarahan anggota FPI yang kebetulan melintas di depan Asrama Mahasiswa Pangsuma. Anggota FPI langsung turun dan mengambil-alih spanduk tersebut.
Kejadian itu sontak menghebohkan warga Pontianak. Anggota FPI langsung menghubungi anggota lainnya, dan dalam waktu singkat laskar FPI sudah tumpah-ruah di Jalan Wahid Hasyim. Begitu pula warga sekitar, turut berhamburan memadati jalan untuk melihat kejadian tersebut.
Tidak berselang lama, pihak kepolisian tiba di lokasi kejadian untuk mengamankan situasi. Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Muharrom Riyadi juga turun ke lokasi kejadian, namun belum mau memberikan keterangan terkait insiden ini. Massa FPI pun membubarkan diri setelah dua unit mobil Dalmas Korps Brimob tiba di lokasi.
Keterangan warga sekitar mengaku tidak tahu menahu soal pemasangan spanduk tersebut. Hingga pukul 18.00 WIB, satuan Brimob Polda Kalbar serta aparat kepolisian siaga penuh di sekitar lokasi untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan terjadi. Situasi di Jalan Wahid Hasyim berangsur-angsur kondusif.
Pantauan kalbar-online di lokasi kejadian hingga pukul 21.00 WIB, tetap kondusif. Pihak kepolisian masih berjaga-jaga. Beberapa unit mobil Dalmas juga bersiaga penuh untuk mengamankan lokasi.
Guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan, dari depan Jalan Prof Hamka hingga simpang tiga Sungai Jawi (Jalan Hasanuddin) ditutup dengan lapisan Brimob serta kawat duri agar tidak ada massa yang bisa masuk ke area tersebut. [sumber : kalbar-online.com]
Di forum Kaskus juga ada yang buat thread mengenai kisruh ini. Namun ada komentar yang memprovokasi ada pula yang mengharapkan situasi kondusif. 
Berikut foto yang saya dapat dari berbagai sumber :


Konflik berbau SARA sangat rawan terjadi di Kalimantan Barat sejak terjadinya konflik SARA pada tahun 1997 silam. Namun, konflik yang telah terjadi tersebut telah menyisakan luka yang amat mendalam dan rasa trauma pada masyarakat Kalimantan Barat sehingga aku sangat percaya bahwa masyarakat akan lebih memilih untuk hidup damai berdampingan dan menganggap apapun suku dan agamanya, kita semua adalah bersaudara. Dan aku percaya jika pimpinan tertinggi propinsi dan kota ini pastinya akan dapat menyelesaikan masalah ini dengan arif, bijaksana dan damai.

You May Also Like

0 comments