Kamis, Mei 31, 2012

Fanatisme, Masih Zamankah?

Barusan baca dari salah satu Wall Photo pesbuk yaitu foto status/komentar yang bikin ngeri bacanya... Kenapa bikin ngeri? Komentar pesbuk kok ngeri? Biasanya kan status atawa komentar itu alay-alay secara ini adalah negeri para alay? Hehehe, ya iyalah, coba aja klik gambar disamping dan bacalah dengan seksama dan pilihlah jawaban yang anda anggap benar (lagi ujian yang bro? :P).
Udah baca? Ngeri ga? Mungkin bukan kata ngeri yang tepat, tapi kata 'tragis'! Bagaimana tidak, ini komentar pesbuk secara terang-terangan mengatakan bahwa si komentator terlibat dan atau menjadi penyebab terjadinya pengeroyokan terhadap supporter Persib yang mengakibatkan kematian. Penyebabnya? Tidak lain adalah fanatisme terhadap klub sepakbola. Kok sampe gitu banget yah? Fanatik kok sampe bunuh-bunuhan?
Fanatisme atau 'taqlid' adalah sesuatu banget, yah Alhamdulillah.. Eh, maksudnya adalah sesuatu yang sangat sensitif di bangsa ini. Betapa mudahnya orang-orang melakukan anarkisme hanya karena perbedaan pendapat dan fanatisme berlebihan. Masih segar di ingatan ketika pada bulan Mei lalu terjadi konflik antara suku Dayak dan Organisasi Islam di Pontianak. Begitulah gambaran masyarakat Indonesia yang sangat mudah dipanas-panasi hanya karena idealisme dan fanatisme.
Teringat pula beberapa hari yang lalu obrolanku dengan Endry Can yang membahas masalah Jaringan Islam Liberal, tentang kebebasan berpendapat. Bangsa Indonesia memang perlu belajar banyak tentang menghormati pendapat dan pilihan orang lain yang berbeda. Bukan maksud hatiku ingin menjadi 'sok dan merasa paling bener', tapi bukankah seharusnya memang kita harus dapat menghargai perbedaan? Kenapa menjadikan fanatisme sebagai satu-satunya kebenaran? Masih zamankah?
Kepada kawan-kawanku, aku ingin mengajak untuk selalu menggunakan akal, logika yang rasional dan janganlah mudah terpanas-panasi hanya oleh fanatisme buta. Hidup ini indah dan luas, dan sudah menjadi tugas kitalah menjadikan dunia ini indah dan luas, bukan hanya untuk diri kita sendiri, juga bagi keluarga, sahabat, dan rahmat bagi seluruh alam.

PS: Aku bukanlah pengikut JIL (Jaringan Islam Liberal), dan tidak perlu menjadi pengikut JIL untuk berpendapat bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak dasar manusia, kan?
Share:

0 comments:

Posting Komentar