Kamis, Juni 21, 2012

Haram dan Halalnya Parfum Ber-Alkohol

Beberapa waktu ini aku penasaran dengan permasalahan tentang haram dan halalnya parfum ber-alkohol, karena ada yang menganggap menggunakan parfum beralkohol itu boleh, ada juga yang bilang tidak boleh. Hal ini menurutku sangat penting karena jika sholat sambil mengenakan pakaian yang telah terkena parfum ber-alkohol, tentunya kita harus mengerti ikhwal hukumnya. Betul tidak? Kali ini aku akan kaji secara sederhana bersumber dari hadis, buku, maupun artikel-artikel yang ada secara ringkas.

Kenapa ada yang menganggap parfum beralkohol itu halal (mubah)?
Alasannya adalah karena yang diharamkan dari parfum ber-alkohol adalah kandungan alkoholnya, bukan parfumnya. Alkohol akan menjadi haram jika diminum, walau dalam kadar kecil sekalipun, karena berpotensi memabukkan. Itu yang dalam islam disebut khamr.

Apakah parfum ber-alkohol itu khamr?
Kalau diminum tentu jadi khamr, tapi emangnya ada yang mau minum parfum ber-alkohol? Plis deh... ;)) Nah, karena pemakaian parfum tersebut bukan dengan meminumnya, tapi dengan memercikkan, menempelkan atau disemprotkan di kulit atau pakaian, maka parfum ber-alkohol tidak bisa dikategorikan sebagai khamr dan menjadi haram.
Lain halnya jika parfum ber-alkohol tersebut dapat memabukkan jika dicium atau dihirup, seperti narkoba atau nge-lem itu loh, udah pasti pasti parfum tersebut dihukumkan sebagai haram.

Jadi, apakah parfum ber-alkohol itu haram digunakan?
Jika yang menjadi patokannya adalah keharaman parfum ber-alkohol itu berasal dari keharamannya alkohol sebagai khamr, maka sesuai dengan alasan diatas bahwa menggunakan parfum ber-alkohol itu tidak memabukkan, otomatis hukum parfum ber-alkohol itu halal.
Namun, lain ceritanya jika yang dipermasalahkan adalah jati diri alkohol itu sendiri. Satu-satunya yang dapat menjadikan parfum ber-alkohol haram digunakan adalah:

Apakah alkohol itu najis?
Jika alkohol itu dihukumi najis, maka penggunaannya tentu saja haram terutama jika sholat dapat membatalkan wudhu dan sholat-nya.

Dari mana sifat kenajisan alkohol itu?
Sebenarnya para ulama juga masih berbeda pendapat tentang hal ini, ada yang mengatakan najis, ada yang mengatakan tidak najis. Yang menjadi pokok landasannya adalah ayat berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah rijs (perbuatan keji).” (QS. Al Maidah: 90)
Ulama yang setuju dengan najisnya alkohol mengatakan bahwa ayat ini menunjukan kenajisan khamr, karena Allah SWT menyebut khamr sebagai rijsun, yang berarti najis. Pendapat ini diperkuat oleh hadis Rasulullah yang berbunyi:
“Sesungguhnya kami (para sahabat) berada di negeri para Ahli Kitab, mereka makan babi dan minum khamr, apakah yang harus kami lakukan terhadap bejana-bejana dan periuk-periuk mereka? Rasulullah SAW menjawab, “Apabila kamu tidak menemukan lainnya, maka cucilah dengan dengan air, lalu memasaklah di dalamnya, dan minumlah.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Perintah untuk mencuci bejana wadah khamr dan periuk wadah daging babi itu, menunjukkan bahwa kedua benda tersebut tidak suci (najis). Sebab, apabila suci dan tidak najis, tentu Nabi SAW tidak akan memerintahkan mencucinya dengan air.

Sedangkan menurut ulama yang tidak setuju dengan kenajisan alkohol mengatakan bahwa pada ayat QS. Al Maidah: 90 tersebut yang dimaknai rijsun tersebut bahwasanya judi, berhala dan panah itu bukanlah benda najis, namun ketiganya najis secara maknawi, maka begitu pula dengan alkohol, maka ia pun najis namun secara maknawi (perbuatannya yang keji) bukan benda atau zatnya. Apakah alat judi, berhala dan alat untuk mengundi nasib dengan anak panah termasuk benda-benda najis? Apakah kalau seseorang telah berwudhu' lalu menyentuh kartu remi, akan batal wudhu'nya? Karena kartu remi termasuk alat perjudian? Jawabnya tidak. Benda-benda itu tidak pernah dijadikan benda najis.

Mengenai hadis Nabi diatas, dapatlah kita pahami bahwa memang sudah jelas bahwa Nabi memerintahkan untuk mencuci bejana dan periuk bekas babi dan khamr agar kelak ketika digunakan sebagai alat makan para sahabat, tidak lagi ada sisa-sisa dari babi dan khamr tersebut. Hadis tersebut menunjukkan sifat keharaman makanannya, bukan dari sifat kenajisan, karena yang dikhawatirkan Nabi adalah terikutnya sisa-sisa babi dan khamr ke dalam makanan dan minuman para sahabat sehingga termakan dan terminum, karena bukankah makanan dan minuman itu tetap haram dalam jumlah sedikit maupun banyak?

Bagaimana kita menyikap hal ini?
Sebagai muslim, kita perlu menyikapi hal tersebut dengan kehati-hatian, karena para ulama pun masih banyak yang berbeda pendapat. Bagi kawan yang berpendapat bahwa alkohol itu najis dan haram digunakan, tentu sudah jelas apa yang akan dilakukan. Bagi kawan yang sudah yakin bahwa alkohol itu bukan najis dan boleh digunakan, silahkan saja terus menggunakannya. Namun bagi kawan yang masih ragu, maka cara terbaik menyikapinya adalah dengan menjauhinya, sehingga bagi kita yang ilmunya sangat sedikit ini dapat tetap berada di jalan yang di ridhoi-Nya. Semoga, Amin.

Wallahu a'lam bishshawab
Share:

0 comments:

Posting Komentar