Rabu, Desember 12, 2012

Memulai Usaha Digital Printing dan Sablon

Setelah resmi menyandang status ‘pengangguran’ karena kondisi perusahaan yang sepi job, aku memutuskan untuk membangun bisnis sendiri ketimbang mencari pekerjaan baru. Untungnya, sejak mengendus-endus kondisi perusahaan beberapa bulan yang lalu, aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi di-PHK, yaitu dengan mempersiapkan rencana bisnis yang akan kubangun.

Banyak ide bisnis yang menarik dan bisa dikembangkan, dan sebenarnya aku cukup tertarik dengan bisnis layanan hotspot seperti yang sedang dirintis oleh sobatku Endri Can. Namun, semenarik apapun sebuah ide bisnis haruslah dipikirkan masak-masak agar kelak dapat berkembang, jangan terbawa arus ‘ikut-ikutan’, ‘trend’, dsb, namun harus kita pelajari juga mulai dari sistem bisnis, lokasi, produk, pangsa pasar hingga ke ‘passion’ dan ‘support’ yang kita miliki. Karena itulah, setelah mempertimbangkan beberapa hal yang paling krusial dan menentukan, aku memilih untuk membangun sebuah usaha percetakan sablon dan digital ketimbang mengikuti jejak sobatku Endri Can.

Sejujurnya dalam memulai usaha digital printing dan sablon ini aku tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang dunia cetak mencetak, kecuali tentunya pengalamanku mencetak dokumen-dokumen kantor selama 2 tahun terakhir. Jadi untuk memulai bisinis percetakan sablon ini boleh dibilang aku memulainya dari nol. Dengan berguru pada mbah gugel, aku baru mengetahui bahwa usaha percetakan terdiri dari paling tidak 2 kategori produk, yaitu:
  1. Percetakan sablon manual
    Kategori produk ini merupakan jenis usaha bisnis yang tergolong klasik dimana produk yang dihasilkan, baik itu kartu undangan, kartu nama, ataupun kaos merupakan hasil pencetakan manual menggunakan alat sablon.
  2. Digital printing
    Sedangkan untuk kategori ini merupakan jenis usaha yang cukup booming dimana produk hasil olah mesin secara digital, biasanya dengan bantuan komputer. Kategori usaha ini relatif lebih mudah dibanding dengan sablon manual, dengan hasil yang jauh lebih bagus dan lebih cepat, namun diimbangi juga dengan modal yang jauh lebih besar. Belum lagi harus dibarengi dengan skill design yang tentunya akan sangat mendukung.
Untuk digital printing, aku dapat mengandalkan laptop Axioo Pico DJH 255 yang walau memiliki layar kecil namun tetap bisa diandalkan untuk keperluan desain-desain standar. Sebagai modal tambahan adalah printer Canon iP2770 dan mesin scanner Canon CanoScan LiDE 110 yang merupakan produk-produk termurah di kelasnya. Walau murah, namun bisa dimaksimalkan, itu motonya! Dan walaupun aku hanya memiliki peralatan digital printing yang tidak sesuai standar, namun itu sama sekali tidak menyurutkan langkahku karena aku percaya bahwa bukan keterbatasan yang membatasi kita, tapi pikiran kita sendiri! Betul ga Smile.

Dan khusus untuk sablon manual aku sama sekali belum punya skill dan peralatannya, jadi dalam catatanku selanjutnya mungkin akan aku coba tuliskan tentang mengenal alat-alat sablon manual.
Share:

2 komentar:

  1. saya juga ingin sekali membuka usaha digital printing, bingung neh mau mulai dari mana.

    BalasHapus
  2. www.javaprintindonesia.com pusat digital printing indonesia

    BalasHapus