Serunya Samsung Galaxy Tab 3

by - 16.19.00

Setelah menikmati Android Pad, Samsung Galaxy Young, dan Axioo Vigo 350, kali ini aku akan memperkenalkan anggota baru keluarga kecil Android-ku: Samsung Galaxy Tab 3 7.0 (Wifi + 3G). Lahir sebagai varian penerus kesuksesan Samsung Galaxy Tab series, Tab 3 ini tentunya dibekali dengan teknologi terbaik dari Samsung dalam 3 varian ukuran layar: 7 inch, 8 inch, dan 10 inch. Dan kebetulan, rejeki yang kudapat adalah Samsung Galaxy Tab 3 7.0 (ukuran layar 7 inch) dengan WiFi dan 3G.

Produk dengan nama asli GALAXY Tab 3 7.0" SM-T2110Z ini, dijalankan dengan OS Android 4.1.2 Jelly Bean dengan jeroan hardware 1.2GHz Dual Core Processor, 16GB memori internal serta 1GB RAM. Tentunya dengan spesifikasi tersebut sudah sangat memadai untuk memainkan game-game HD bahkan cukup smooth untuk memainkan video kualitas HD 720p.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang spesial dengan spesifikasi Tab 3 ini, jika dibandingkan dengan tablet-tablet yang sudah dirilis sebelumnya, katakanlah seperti Ipad Mini, Galaxy Note, dll. Terutama dari segi kualitas layar, sebenarnya aku mendambakan sebuah tablet dengan layar resolusi dan kepadatan pixel yang tinggi. Namun dengan harga 3,5 jutaan, Galaxy Tab 3 sudah dapat meng-kudeta apa yang menjadi keinginan kita.

Tidak sedikit pula tablet-tablet pesaing yang menawarkan spesifikasi mumpuni dengan harga sangat terjangkau. Namun apa yang menjadi pertimbanganku hingga memilih Samsung Galaxy Tab 3? Selain karena produk ini tergolong baru, pengalamanku terhadap Samsung Galaxy Young dan Axioo Vigo 350 juga menjadi kunci pertimbanganku, dimana kualitas hardware yang bersanding dengan kematangan software dan dukungan update ternyata jauh lebih berharga dibandingkan produk yang hanya sekedar jualan spesifikasi dan harga murah.

Axioo Vigo merupakan salah satu produk Android Axioo yang cukup murah (pada saat kubeli tahun 2012) dengan spesifikasi hardware yang menjanjikan. Namun, setelah berlalunya waktu, aku tidak pernah menikmati yang namanya update kernel, firmware atau versi Android secara resmi dari Axioo sehingga bisa dikatakan tidaka ada dukungan perbaikan apapun oleh Axioo, pasca pembelian, sehingga tidak ada yang namanya perbaikan bug (fix bug) pada smartphone mereka.

Axioo Vigo 350 juga tidak bisa di-root, terutama karena minimnya sumber informasi lebih jauh yang bisa didapat. Satu-satunya cara agar Axioo Vigo 350 bisa di root adalah dengan mengganti firmware dengan ViewSonic, yang tentu saja bukan menjadi pilihanku. Seperti yang kawan ketahui, Android yang bisa di root membuka potensi-potensi Android menjadi maksimal. Kebalikan dari Axioo Vigo 350, Samsung Galaxy Young yang kumiliki ternyata mendapat update secara resmi dari Samsung, yang menjamin kinerja Android menjadi lebih stabil dan gegas. Belum lagi kemudahan melakukan root yang cara dan software yang diperlukan banyak tersebar di berbagai blog dan forum. Hal-hal tersebut tentu sangat terasa manfaatnya jika kita menggunakan perangkat Android dalam jangka waktu lama, sehingga aku khawatir jika memilih merk tablet yang sekedar murah tapi mengabaikan dukungan update maupun rooting, maka kelak tablet yang telah kita beli hanya mentok tanpa bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Tapi, pilihan tetaplah pilihan. Yang penting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan perangkat yang kita beli menjadi bermanfaat dan membuat hidup kita lebih seru.

You May Also Like

0 comments