Siapakah KAMI Yang Disebut Dalam Al Quran?

by - 11.52.00

Gaya bahasa yang digunakan oleh Al Quran seringkali ditemukan penggunaan kata ganti subyek dengan kata "AKU" dan "KAMI", dimana keduanya merujuk pada satu subyek yang sama, yaitu sang pembicara: Allah Subhanahu Wata'ala. Namun, bagi mereka (termasuk aku) yang tidak memiliki kemampuan berbahasa Arab, penggunaan kata Kami yang disebut dalam Al Quran tentunya menimbulkan pertanyaan tersendiri mengingat tema sentral Al Quran adalah peng-ESA-an terhadap Tuhan (Allah), namun Allah sendiri dalam penyampaiannya di Al Quran seringkali menggunakan kata jamak untuk merujuk pada diri-Nya.

Hal ini seringkali menjadi bahan perdebatan lintas agama yang menjadi 'legitimasi' bahwa sesungguhnya Al Quran sendiri menunjukan indikasi-indikasi penyembahan terhadap subyek jamak (bukan satu), sehingga terjadi kontroversi dengan ayat-ayat tauhid lainnya di dalam Al Quran itu sendiri. Untuk menjawab hal itu, mari kita dengarkan ceramah dari Ahmed Deedat, seorang ulama asal Afrika Selatan yang fokus dalam dakwahnya bertema Kristologi. Ceramah ini merupakan sebuah agenda dalam rangka menjawab pernyatan seorang misionaris bernama Jimmy Swaggart dengan tema "Muhammad in the Bible".
Pertama, Muhammad (shalallahu'alaihi wassalam) disebutkan namanya pada teks Injil yang asli yaitu di perjanjian lama yang berbahasa Hebrew dan di Perjanjian Baru yang berbahasa Greek (Yunani) yaitu di Duvey bab 5 ayat 16 dalam bahasa Hebrew dinyatakan Nyanyian Solomon. Dalam bahasa Hebrew disebutkan, "... Muhammadim ... baina Jerusalam". Raja Solomon bab 5 ayat 16 menyebut nama Muhammad. Penggunaan "im" menunjukkan bentuk jamak, penghormatan dalam Hebrew (plural of respect).
Anda lihat di kitab Kejadian ayat 1 bab 1 (berbunyi): "Mula-mula Tuhan menciptakan langit dan bumi." Penyebutan Tuhan dalam Hebrew adalah elohim, dalam Hebrew el menyatakan Tuhan, elohim adalah bentuk jamak. Bentuk jamak menyatakan penghormatan dan persahabatan, bentuk penghormatan. Dalam semua bahasa-bahasa yang ada di Timur ada dua jenis bentuk jamak dalam bahasa ibu saya: ada yang menunjukkan jamak bentuk penghormatan, ada yang untuk jumlah. Dalam bahasa Urdu ada yang menunjukkan jamak bentuk penghormatan, ada yang untuk jumlah.
Dan juga anda tahu dalam Quran disebutkan "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15:9)". Siapa yang dimaksud dengan 'Kami' di sini? Siapa yang dimaksud dengan kami di sini? Apakah trinitas itu Allah (Subhanahu Wata'ala), Jibril ('alaihissalam) dan Muhammad (salallahu'alaihi wassalam)? Tuhan Bapa dan Roh Kudus? Tidak! Tidak! Siapa kami itu? Dalam Quran dinyatakan "Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa." (Q.S. 112:1).
Di sini kita bicara tentang istilah 'kami'. Tak ada pertanyaan (dari) orang Arab yang pernah ditanyakan kepada orang Islam, saya tanyakan kepada orang Arab Kristen siapa yang dimaksud 'kami' di sini? Karena anda tahu dalam bahasa Inggris ada dua jenis bentuk jamak, ada yang menunjukkan jamak bentuk penghormatan, ada yang untuk jumlah. Dalam hal ini kami berarti plural (jamak) yang menyatakan penghormatan. Siapa yang dimaksud 'we'? Bukan She, suami-Nya dan anak-Nya, bukan. Itu menunjukkan auto respect mengagungkan Dzat-Nya.
Jadi Elohim ... bentuk jamak menyatakan penghormatan. Ela adalah Tuhan, Elah juga Tuhan. Elohim menunjukkan lebih dari satu yang berarti penghormatan... Tanya saja setiap orang Yahudi, tanya dia apa artinya 'im'! Dalam bahasa saya ini adalah bentuk jamak penghormatan. Walalupun orangnya (subyeknya) satu tapi anda harus menggunakan bentuk jamak untuk menunjukkan penghormatan dengan cara seperti itu.
Kutipan ceramahnya dapat kawan saksikan dengan subtitle Bahasa Indonesia pada link youtube berikut:

Kesimpulannya adalah, bahwa penggunaan kata jamak dalam Al Quran merupakan bentuk penghormatan dan merupakan gaya bahasa yang sangat umum digunakan dibangsa-bangsa Timur Tengah. Semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

You May Also Like

0 comments